Pada suatu hari, Fatimah Az-Zahra putri kesayangan kanjeng Nabi Muhammad SAW menemui ayahandanya. Dia bertanya kepada rosululloh, “Wahai ayahku, siapakah wanita pertama yang akan masuk syurga kelak? Apakah ia adalah bunda Aisyah, khatijah, atau nenek Aminah? Atau istri ayah yang lain?” dan Rosul pun menjawab “Anakku Fatimah, seorang wanita yang akan menjadi penghuni pertama syurga bukanlah bunda-bundamu, bukan nenekmu, bukan pula dirimu.” Mendengar jawaban Roululloh, Fatimah pun terkejut, ia kembali bertanya “Lalu siapakah dia?” Dan Rosul pun menjawab, dia adalah seorang wanita biasa yang bernama Muti’ah.” Subhanalloh, betapa indahnya Islam, bahkan untuk menjadi wanita pertama yang menghuni syurga pun Islam tidak memberlakukan Kolusi. Ternyata bukan istri-istri Rosululloh, bukan ibunda Rosululloh, bukan pula Fatimah yang tanpa diragukan lagi keimanan mereka, melainkan hanya seorang wanita biasa yang bernama Muti’ah.
Karna penasaran, Fatimah pun bertanya lebih jauh “Siapakah dia? Apa keistimewaan seorang Muti’ah sehingga ia bisa menjadi wanita pertama penghuni syurga?” Rosul pun menjawab “Sebaiknya kau cari tau sendiri saja dengan mendatanginya.” Maka Fatimah pun bergegas pergi ke rumah Muti’ah untuk mencari tau keistimewaan seorang Muti’ah.
Tok...tok...tok... “Assalamu’alaikum....”
“Wa’alaikumsalam...siapakah gerangan?” seorang wanita menjawab salam Fatimah dari dalam rumah.
“Aku Fatimah Az-Zahra putri Rosululloh. Apa benar ini kediaman Muti’ah?”
“Subhanalloh, benar sekali saya Muti’ah. Ada apa gerangan putri Rosululloh datang ke rumah saya?” Muti’ah menjawab tanpa membukakan pntu untuk Fatimah
“Aku hanya ingin bersilaturahmi dengan mu.” Jawab Fatimah
“Maaf Fatimah, tetapi suamiku belum tau kalau kamu hendak datang mengunjungiku. Silakan datang lagi besok, aku akan meminta izin suamiku dulu.”
Dengan sedikit terkejut dan kecewa, Fatimah pun pulang dan kembali keesokan harinya dengan membawa Hasan, putranya.
Tok...tok...tok...”Assalamu’alaikum...Muti’ah ini aku Fatimah.”
“Wa’alaikumsalam...oh iya silakan masuk Fatimah, aku sudah berkata pada suamiku bahwa kau akan datang, tetapi siapakah yang kau bawa itu Fatimah?”
“Ini Hasan putraku.”
“Maaf Fatimah, aku bilang pada suamiku bahwa hanya kau yang akan datang mengunjungiku. Aku belum memintakan izin untk Hasan. Apalagi dia laki-laki. Silakan kembalilah besok dan aku akan kembali meminta izin suamiku untuk memperbolehkan Hasan ikut bersamamu.”
Dengan rasa kembali kecewa akhirnya Fatimah menurut saj dan kembali lagi keesokan harinya bersama Hasan. Tetapi pada saat akan berangkat, Husein adik kembar Hasan merengek minta ikut, sehingga pergilah Fatimah ke tempat Muti’ah bersama Hasan dan Husein.
Tok...tok...tok...”Assalamu’alaikum...Muti’ah ini aku Fatimah.”
“Wa’alaikumsalam...oh iya silakan masuk Fatimah, aku sudah berkata pada suamiku bahwa kau akan datang bersama Hasan dan dia mengijinkan kalian masuk rumahku.”
“Tetapi aku juga membawa Husein turut serta bersama kami.” Kata Fatimah
“Maaf Fatimah, dengan sangat menyesal aku tidak mengijinkan Husein masuk ke dalam rumahku karna aku belum memintakan izin pada suamiku.”
Dengan nada kesal Fatimah menjawab, “Tapi kan Husein masih kecil.”
“Sekali lagi maaf Fatimah, bagaimanapun juga Husein adalah seorang laki-laki dan aku juga belum meminta izin pada suamiku. Kembalilah lagi besok jika kau ingin menemuiku.”
Meskipun kesal tapi akhirnya Fatimah menurut dan dia semakin penasaran dengan diri Muti’ah. Dan keesokan harinya Fatimah pun kembali mengunjungi Muti’ah bersama Hasan dan Husein. Kali ini Muti’ah mengijinkan mereka untuk masuk. Sejauh pengamatan Fatimah terhadap Muti’ah, tidak ada sesuatu yang istimewa dalam diri Muti’ah. Dia melaksanakan ibadah juga seperti yang Fatimah lakukah. Tidak ada ibadah-ibadah khusus yang dilakukan Muti’ah. Fatimah hampir saja putus asa, sampai kemudian Muti’ah meminta izin sebentar untuk pergi mengirim makanan di tempat suaminya bekerja. Akan tetapi ada suatu keanehan yang dilihat oleh Fatimah. Dalam nampan makanan yang dibawa oleh Muti’ah, Fatimah melihat ada cambuk di sana. Karna penasaran, Fatimah pun bertanya
“Wahai Muti’ah, kenapa kau bawa cambuk dalam nampanmu. Apakah suamimu seorang penggembala?”
“Bukan Fatimah, suamiku hanyalah seorang petani biasa.”
“Apakah suamimu adalah seorang yang kasar perangainya?” tanya Fatimah semakin penasaran.
“Tidak juga Fatimah. Suamiku adalah orang yang sangat baik hati dan lembut, bahkan sangat lembut perangainya terhadapku.”
“Lalu kenapa kau membawa cambuk?”
“Setiap hari saat aku menghidangkan makan untuk suamiku, selalu kusediakan pula cambuk di samping piring makannya. Akau akan meminta suamiku untuk mencambukku jika makanan yang aku masakkan untuknya tidak enak atau tidak sesuai dengan keinginannya.”

Subhanalloh....terjawab sudah segala pertanyaan dan keraguan yang semula ada dalam hati Fatimah. Muti’ah memang pantas menjadi wanita pertama penghuni syurga. Bukan karna keistimewaan ibadah yang dilakukannya, tetapi karna pengabdiannya yang begitu besar terhadap suami yang dicintai dan mencintainya. Bahkan dia rela untuk dicambuk jika pelayanannya terhadap suami kurang memuaskan.
Semoga kish ini juga dapat menjadi inspirasi bagi istri-istri di dunia, juga bagi para calon istri untuk selalu menjaga nama baik suami dan mengabdi dengan sepenuh hati karna Alloh SWT.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Comment Please ^___^