Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Tapi hujan masih saja turun dengan derasnya seolah masih merindukan malam dan enggan untuk reda. Dua orang lelaki duduk di beranda masjid. Si Tukang Cukur dan Si Karyawan, sepasang sahabat yang selalu setia pada pertemuan mereka di masjid seusai sembahyang di antara jam kerja mereka. Wajah mereka tampak mulai gelisah. Penat dan lelah telah tertumpuk di tubuh mereka setelah menguras keringat seharian, tapi mereka belum bisa untuk pulang kembali pada peraduan, dalam kehangatan keluarga mereka. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk memanggil taksi dan pulang bersama. Kebetulan rumah mereka satu arah. Lumayan lah, argo taksi bisa ditanggung berdua jadi tidak terlalu mahal. Di dalam taksi mereka terlibat dalam suatu obrolan ringan.
Tukang Cukur: “Aku kadang merasa bingung, jika Tuhan telah menentukan takdir bagi kita, kenapa Dia menciptakan surga dan neraka?”
Karyawan: “Iya, kadang aku juga berpikir begitu. Takdir kita telah ditentukan. Hidup, mati, jodoh, dan rizki. Apa pun yang kita lakukan juga sudah ditentukan. Tapi kenapa kita melanggar aturanNya, neraka balasannya, dan jika kita melakukan semua perintahNya maka kita masuk surga. Kenapa Dia menciptakan aturan, kenapa pula tidak ditentukan saja semua manusia masuk surga biar enak.”
Tukang cukur hanya tersenyum sambil manggut-manggut tanda setuju.
Lampu merah di perempatan menyala, sopir taksi pun menghentikan taksinya. Tiba-tiba sebuah sepeda motor melaju dengan kencang menerobos lampu merah dan hampir saja menabrak penyebrang jalan. Untung saja si penyeberang jalan dapat menghindar sehingga selamat. Semua yang ada di dalam taksi hanya bisa geleng-geleng kepala.
“ckckck....sembrono sekali orang itu. Untung saja orang yang menyeberang itu tidak tertabrak.” Seru Si Tukang Cukur
Si Karyawan menimpali dengan marah: “Hujan memang sering membuat orang terburu-buru di jalan raya, tanpa peduli dengan keselamatan orang lain dan secara tidak langsung juga tidak peduli pada keselamatan dirinya sendiri.”
Lampu lalu lintas kembali menyala hijau. Sopir taksi mengemudikan taksinya lebih hati-hati. Masih kaget dengan kejadian tadi rupanya. Tak jauh dari perempatan tadi, di sebelah kiri jalan tampak pengendara motor yang tadi menerobos lampu merah tampak sedang menepi bersama dua orang polisi.
Si Karyawan: “Bukankah itu sepeda motor yang tadi menerobos lampu merah?”
Si Tukang Cukur: “Iya benar. Wah untung saja ada polisi yang melihatnya. Dia pasti akan mendapat hukuman yang setimpal dengan perbuatannya karna melanggar peraturan lalu lintas. Apa jadinya kalau tidak ada peraturan berlalu lintas, semua orang pasti akan berbuat seenaknya”
Si Karyawan: “Betul sekali. Pengawasan dari semua pihak pun sangat diperlukan agar setiap orang yang melanggar peraturan dapat dihukum sesuai apa yang diperbuatnya dan tidak melakukan kesalahan yang sama di waktu yang lain.”
Si Tukang Cukur dan Si Karyawan kembali terdiam. Mereka asik dengan pikiran masing-masing. Tapi, sopir taksi yang sejak tadi hanya diam, tiba-tiba angkat bicara menunjukkan kalau dia ada.
“Saya kira, karna itulah Tuhan menciptakan surga dan neraka.”
Si Tukang Cukur dan Karyawan saling berpandangan sambil bengong.
Sopir Taksi melanjutkan: “Tuhan membuat peraturan. Setiap orang yang mematuhi semua aturan dan perintahNya tentu saja mendapatkan balasan baik dari Tuhan, yaitu surga. Tetapi orang yang membangkang perintahnya, melanggar aturan-aturanNya tentu saja mendapat balasannya juga, yaitu neraka. Setiap orang memang telah memiliki takdirnya masing-masing. Tapi merekalah yang memilih jalannya untuk menjemput takdir mereka. Ada yang memilih melalui jalan yang benar sesuai dengan aturanNya, ada pula yang memilih jalan pintas yang justru akan menyesatkannya dengan melanggar aturan-aturan yang telah dibuat oleh Tuhan. Itulah yang membuat kita memiliki nilai lebih dibandingkan dengan makhlukNya yang lain, yaitu kelebihan untuk MEMILIH jalan hidup kita dalam menjemput takdir yang telah ditetapkan bagi kita.”
Tukang Cukur dan Si Karyawan hanya bisa berpandangan, mereka tersenyum tandanya mengerti. Dan taksi pun tetap melaju dengan damai di tengah hujan yang masih setia pada malam.
Sugeng Rawuh
hai...hai...hai..... ^____^
monggo pinarak wonten ing Blog kulo ...
blog ini sengaja kubuat untuk tempat corat-coret unek-unekku karna udah males nulis-nulis di diary...heehee...
buat yang sengaja masuk....yang gak sengaja masuk....atau cuma buat iseng-iseng masuk....thanx ya udah ikut meramaikan blog ini....semoga bisa kasih manfaat buat para pembaca...
silakan berkomentar untuk setiap entry....masukan yang membangun dan koreksi untuk kesalahan sangat kuhargai sebagai ajang saling menasehati dalam kebaikan....
jangan lupa sebelum meninggalkan blog ini, follow dulu ya...heehee....
salam kenal ... ^^latifa^^
monggo pinarak wonten ing Blog kulo ...
blog ini sengaja kubuat untuk tempat corat-coret unek-unekku karna udah males nulis-nulis di diary...heehee...
buat yang sengaja masuk....yang gak sengaja masuk....atau cuma buat iseng-iseng masuk....thanx ya udah ikut meramaikan blog ini....semoga bisa kasih manfaat buat para pembaca...
silakan berkomentar untuk setiap entry....masukan yang membangun dan koreksi untuk kesalahan sangat kuhargai sebagai ajang saling menasehati dalam kebaikan....
jangan lupa sebelum meninggalkan blog ini, follow dulu ya...heehee....
salam kenal ... ^^latifa^^
Senin, 29 Oktober 2012
Selasa, 23 Oktober 2012
Kisah Seorang Tukang Cukur dan Seorang Karyawan (Bagian 2 : Tuhan Itu Adil)
Terik mentari terasa sangat menyengat di kulit. Sekedar melepas penat di beranda masjid sembari istirahat selepas sholat dhuhur, tampaknya telah menjadi kebiasaan yang rutin dilakukan oleh sepasang lelaki si tukang cukur dan si karyawan. Tanpa disadari persahabatan telah terjalin dengan sendirinya. Tapi kali ini si karyawan tampak lebih murung dari biasanya. Hal ini tentu mengundang tanya bagi
si tukang cukur.
tukang cukur : “Kalau aku perhatikan kamu tampak murung hari ini, kenapa ya?”
si karyawan menarik nafas panjang lalu menghempaskannya kuat2 sebelum menjawab si tukang cukur: “Tuhan tidak adil. Tampaknya kali ini Dia sedang tidak berada pada pihakku”
tukang cukur mengernyitkan dahi penuh tanya: “Kenapa?”
kayawan: “Putriku yang sedang kuliah di luar kota meminta jatah uang saku tambahan karna uang sakunya selama ini dirasa kurang. Jika aku memenuhi permintaan putriku, maka aku tidak lagi bisa menabung. Padahal tabunganku dapat kupakai untuk membayar uang sekolah anak2. Bagaimana bisa aku membayar uang sekolah anak2 jika aku tidak menabung.”
kembali si karyawan menghela nafas panjang sebelum melanjutkan.
“Apakah Tuhan tidak memiliki keadilan? Kenapa Dia menciptakan manusia dengan strata sosial. Ada orang kaya yang hidupnya selalu berlebihan. Ada orang yang hidupnya pas2an seperti kita, tidak lebih dan terkadang kurang. Ada juga orang selalu merasa kekurangan. Kenapa Dia tidak menghendaki semua manusia menjadi kaya raya? Ini terkesan sangat pilih kasih.”
Si tukang cukur terdiam, seakan meng-amini apa yang dikatakan oleh si karyawan. Tak berapa lama dia mulai berpikir. Keduanya larut dalam pikiran masing2, hingga si tukang cukur kembali memulai percakapan.
tukang cukur: “berapa jumlah anakmu?”
karyawan: “aku punya 2 orang anak. Putriku yang pertama, sekarang kuliah di luar kota, sedangkan anak keduaku seorang putra dan masih di bangku SMP.”
tukang cukur: “berapa kamu beri mereka uang saku setiap harinya?”
karyawan: “Putriku kuberi sekitar 30 ribu rupiah setiap harinya, sedangkan putraku 5 ribu rupiah setiap hari”
Tukang cukur: “Berarti kamu bukanlah orangtua yang adil”
Sontak si karyawan kaget dengan tuduhan si tukang cukur.
Karyawan: “Kenapa kamu bilang aku tidak adil?”
Tukan cukur menjawab dengan tersenyum: “karena kamu memberikan uang saku yang jumlahnya berbeda kepada anak2mu.”
karyawan mulai tampai sedikit marah: “Bagaimana bisa aku menyamakan uang saku mereka. Jelas2 kebutuhan mereka berbeda. Jika kusamakan uang saku mereka menjadi 5 ribu makan putriku akan mati kelaparan. Karena uang saku untuknya selama ini untuk makan & jajannya setiap hari, juga untuk ongkos transport. Tapi jika kusamakan uang saku mereka menjadi 30 ribu, maka itu terlalu berlebihan untuk putraku. Dia setiap hari makan di rumah dan tak perlu uang lebih untuk makan, sekolah pun diantar jemput oleh istriku sehingga tidak membutuhkan ongkos transport. Uang sakunya selama ini hanya untuk jajannya saja di sekolah. Sebenarnya putraku yang kecil kadang juga merasa cemburu & ingin minta lebih, tapi setelah aku jelaskan dia bisa menerimanya.”
Tukang cukur semakin tersenyum lebar: “Begitulah cara Tuhan bekerja. Dia lebih tau kebutuhan makhluqNya. Apa yang kita inginkan sebenarnya belum tentu merupakan kebutuhan bagi kita. Karena kita memang selalu ingin sesuatu yang lebih dari yang kita miliki. Tuhan lah yang tau apa yang terbaik bagi kita & sampai di mana batas kebutuhan kita. Tapi seringkali kita lupa & tidak bersyukur. Yang kaya tidak mensyukuri apa yang dimilikinya, sehingga apa yang dia dapat tidak digunakan dengan baik, tidak pernah berbagi pada orang yang membutuhkan. Yang selalu merasa miskin pun selalu melihat ke atas sehingga dia selalu merasa kurang dengan keadaannya. Beruntunglah kita yang meskipun kita termasuk yang pas2an & tidak mendapatkan lebih dari yang kita mau, tapi kita memiliki kesehatan untuk bisa bekerja sehingga kita tetap bisa menghidupi keluarga dengan baik.”
si karyawan hanya bisa menunduk malu. Tak terasa air mata mengalir di pipinya. “Astaghfirullohal’adziim...” ucapnya lirih.
si tukang cukur.
tukang cukur : “Kalau aku perhatikan kamu tampak murung hari ini, kenapa ya?”
si karyawan menarik nafas panjang lalu menghempaskannya kuat2 sebelum menjawab si tukang cukur: “Tuhan tidak adil. Tampaknya kali ini Dia sedang tidak berada pada pihakku”
tukang cukur mengernyitkan dahi penuh tanya: “Kenapa?”
kayawan: “Putriku yang sedang kuliah di luar kota meminta jatah uang saku tambahan karna uang sakunya selama ini dirasa kurang. Jika aku memenuhi permintaan putriku, maka aku tidak lagi bisa menabung. Padahal tabunganku dapat kupakai untuk membayar uang sekolah anak2. Bagaimana bisa aku membayar uang sekolah anak2 jika aku tidak menabung.”
kembali si karyawan menghela nafas panjang sebelum melanjutkan.
“Apakah Tuhan tidak memiliki keadilan? Kenapa Dia menciptakan manusia dengan strata sosial. Ada orang kaya yang hidupnya selalu berlebihan. Ada orang yang hidupnya pas2an seperti kita, tidak lebih dan terkadang kurang. Ada juga orang selalu merasa kekurangan. Kenapa Dia tidak menghendaki semua manusia menjadi kaya raya? Ini terkesan sangat pilih kasih.”
Si tukang cukur terdiam, seakan meng-amini apa yang dikatakan oleh si karyawan. Tak berapa lama dia mulai berpikir. Keduanya larut dalam pikiran masing2, hingga si tukang cukur kembali memulai percakapan.
tukang cukur: “berapa jumlah anakmu?”
karyawan: “aku punya 2 orang anak. Putriku yang pertama, sekarang kuliah di luar kota, sedangkan anak keduaku seorang putra dan masih di bangku SMP.”
tukang cukur: “berapa kamu beri mereka uang saku setiap harinya?”
karyawan: “Putriku kuberi sekitar 30 ribu rupiah setiap harinya, sedangkan putraku 5 ribu rupiah setiap hari”
Tukang cukur: “Berarti kamu bukanlah orangtua yang adil”
Sontak si karyawan kaget dengan tuduhan si tukang cukur.
Karyawan: “Kenapa kamu bilang aku tidak adil?”
Tukan cukur menjawab dengan tersenyum: “karena kamu memberikan uang saku yang jumlahnya berbeda kepada anak2mu.”
karyawan mulai tampai sedikit marah: “Bagaimana bisa aku menyamakan uang saku mereka. Jelas2 kebutuhan mereka berbeda. Jika kusamakan uang saku mereka menjadi 5 ribu makan putriku akan mati kelaparan. Karena uang saku untuknya selama ini untuk makan & jajannya setiap hari, juga untuk ongkos transport. Tapi jika kusamakan uang saku mereka menjadi 30 ribu, maka itu terlalu berlebihan untuk putraku. Dia setiap hari makan di rumah dan tak perlu uang lebih untuk makan, sekolah pun diantar jemput oleh istriku sehingga tidak membutuhkan ongkos transport. Uang sakunya selama ini hanya untuk jajannya saja di sekolah. Sebenarnya putraku yang kecil kadang juga merasa cemburu & ingin minta lebih, tapi setelah aku jelaskan dia bisa menerimanya.”
Tukang cukur semakin tersenyum lebar: “Begitulah cara Tuhan bekerja. Dia lebih tau kebutuhan makhluqNya. Apa yang kita inginkan sebenarnya belum tentu merupakan kebutuhan bagi kita. Karena kita memang selalu ingin sesuatu yang lebih dari yang kita miliki. Tuhan lah yang tau apa yang terbaik bagi kita & sampai di mana batas kebutuhan kita. Tapi seringkali kita lupa & tidak bersyukur. Yang kaya tidak mensyukuri apa yang dimilikinya, sehingga apa yang dia dapat tidak digunakan dengan baik, tidak pernah berbagi pada orang yang membutuhkan. Yang selalu merasa miskin pun selalu melihat ke atas sehingga dia selalu merasa kurang dengan keadaannya. Beruntunglah kita yang meskipun kita termasuk yang pas2an & tidak mendapatkan lebih dari yang kita mau, tapi kita memiliki kesehatan untuk bisa bekerja sehingga kita tetap bisa menghidupi keluarga dengan baik.”
si karyawan hanya bisa menunduk malu. Tak terasa air mata mengalir di pipinya. “Astaghfirullohal’adziim...” ucapnya lirih.
Kisah Seorang Tukang Cukur dan Seorang Karyawan (Bagian 1 : Tuhan Itu Ada)
Di suatu siang setelah sholat dhuhur di beranda sebuah masjid, dua orang pria duduk2 sembari melepas penat, sekedar untuk beristirahat sebelum kembali berjuang menghimpun rezeqi untuk keluarga.
Pria yang pertama adalah seorang tukang cukur sedangkan pria yang kedua seorang karyawan biasa. Mereka terlibat dalam sebuah obrolan menarik sebagai berikut:
tukang cukur : “kalau dipikir2 Tuhan itu sebenarnya tidak ada.”
sambil mengernyitkan kening karyawan bertanya : “lhaa kok bisa? Kita umat beragama, pasti kita meyakini adanya Tuhan bukan?”
tukang cukur balik bertanya : “kalau Tuhan ada, kenapa masih banyak orang2 miskin, pengangguran, banyak orag jahat, kriminalitas & pembunuhan ada di mana2. Seharusnya bumi ini tetap aman kan kalau Tuhan memang ada??”
cukup kaget si karyawan mendengar pernyataan tukang cukur. Dia tak bisa berkata2, hanya diam, berpikir, entah apa yang bisa diucapkannya.
setelah beberapa menit keduanya terdiam dalam pikiran masing2, tiba2 lewat di hadapan mereka seorang pria berambut gondrong dengan rambut yang tak terurus. Seketika si karyawan berkata
“kalau dipikir2, tukan cukur di dunia ini juga sebenarnya tidak ada”
sekarang tukang cukur yang merasa kaget : “kok bisa?? Saya tukang cukur, berarti tukang cukur itu ada kan?”
si karyawan menjawab: “kalau tukang cukur ada, coba lihat pria itu, rambutnya gondrong tak ter-urus. Di luar sana juga banyak sekali orang yang berambut gimbal & kusam seperti tidak pernah memangkas rambutnya”
tukang cukur tak mau kalah : “itu karna mereka tidak mau mendatangi tukang cukur”
mata si karyawan berbinar2 : “nah itulah jawabannya”
tukang cukur : “jawaban apa?”
karyawan : “kalau Tuhan itu memang ada. Tetapi banyak di antara manusia yang tidak mau menghampiriNya dan meminta pertolonganNya untuk kelangsungan hidupnya sehingga dapat hidup lebih baik”
tukang cukur tersenyum sambil mengangguk2kan kepalanya ^__^
Pria yang pertama adalah seorang tukang cukur sedangkan pria yang kedua seorang karyawan biasa. Mereka terlibat dalam sebuah obrolan menarik sebagai berikut:
tukang cukur : “kalau dipikir2 Tuhan itu sebenarnya tidak ada.”
sambil mengernyitkan kening karyawan bertanya : “lhaa kok bisa? Kita umat beragama, pasti kita meyakini adanya Tuhan bukan?”
tukang cukur balik bertanya : “kalau Tuhan ada, kenapa masih banyak orang2 miskin, pengangguran, banyak orag jahat, kriminalitas & pembunuhan ada di mana2. Seharusnya bumi ini tetap aman kan kalau Tuhan memang ada??”
cukup kaget si karyawan mendengar pernyataan tukang cukur. Dia tak bisa berkata2, hanya diam, berpikir, entah apa yang bisa diucapkannya.
setelah beberapa menit keduanya terdiam dalam pikiran masing2, tiba2 lewat di hadapan mereka seorang pria berambut gondrong dengan rambut yang tak terurus. Seketika si karyawan berkata
“kalau dipikir2, tukan cukur di dunia ini juga sebenarnya tidak ada”
sekarang tukang cukur yang merasa kaget : “kok bisa?? Saya tukang cukur, berarti tukang cukur itu ada kan?”
si karyawan menjawab: “kalau tukang cukur ada, coba lihat pria itu, rambutnya gondrong tak ter-urus. Di luar sana juga banyak sekali orang yang berambut gimbal & kusam seperti tidak pernah memangkas rambutnya”
tukang cukur tak mau kalah : “itu karna mereka tidak mau mendatangi tukang cukur”
mata si karyawan berbinar2 : “nah itulah jawabannya”
tukang cukur : “jawaban apa?”
karyawan : “kalau Tuhan itu memang ada. Tetapi banyak di antara manusia yang tidak mau menghampiriNya dan meminta pertolonganNya untuk kelangsungan hidupnya sehingga dapat hidup lebih baik”
tukang cukur tersenyum sambil mengangguk2kan kepalanya ^__^
Langganan:
Komentar (Atom)




