Sugeng Rawuh

hai...hai...hai..... ^____^
monggo pinarak wonten ing Blog kulo ...

blog ini sengaja kubuat untuk tempat corat-coret unek-unekku karna udah males nulis-nulis di diary...heehee...

buat yang sengaja masuk....yang gak sengaja masuk....atau cuma buat iseng-iseng masuk....thanx ya udah ikut meramaikan blog ini....semoga bisa kasih manfaat buat para pembaca...

silakan berkomentar untuk setiap entry....masukan yang membangun dan koreksi untuk kesalahan sangat kuhargai sebagai ajang saling menasehati dalam kebaikan....

jangan lupa sebelum meninggalkan blog ini, follow dulu ya...heehee....

salam kenal ... ^^latifa^^

Sabtu, 24 April 2010

Menolak Hadiah 9,1 Milyar Rupiah, Semua Jenius Gila?

Ya dia adalah Grigoriy (Grisha) Perelman. Matematikawan jenius Rusia berdarah yahudi ini mengemohi hadiah yg diberikan oleh the Clay Mathematics Istitute 18 Maret 2010 (http://www.claymath.org/poincare/) untuk penyelesaian Poincare Conjecture yg telah menjadi problema terbuka dan paling sulit kalangan matematikawan lebih dari satu abad. Ini adalah kali yg kedua Perelman menolak penghargaan atas sumbangsih kerjanya dalam bidang matematika. Pada Agustus 2006, dalam kongresnya Persatuan Matematikawan Internasional menganugerahinya Fields Medal, setara dengan hadiah nobel untuk bidang matematika, namun dia menolak penghargaan itu, dan juga menolak hadir dalam konggres tersebut.

Alasan penolakannya terhadap penghargaan yg diberikannya masih merupakan tanda tanya bagi kebanyakan orang bahkan termasuk teman dekatnya. Perelman telah menunjukkaan bakatnya yg luar biasa sejak muda. Di tahun 1982 di usia 16 ia memenangkan medali emas di olimpiade Internasional Maematika dengan skor sempurna 42. Dia juga sangat berbakat dalam bermain biola dan tenis meja. Setelah meraih gelar doktornya di St Petersburg State University, Dr Perelman pertama kali bekerja di Steklov Institute, bagian dari Russian Academy of Science.

Grigory Perelman adalah ahli matematika yg dihormati di kalangannya. Di Rusia, ahli matematika selalu diperlakukan seperti jenius nasional. Pendidikan matematika di negara ini adalah salah satu yang terbaik di dunia. Mereka yg paling pintar di sekolah dikumpulkan untuk mengikuti olimpiade di tingkat kabupaten, kota, dan tingkat nasional. Mereka membawa pulang sertifikat, hadiah, dan reputasi, yang memainkan peran penting dalam komunitas mereka. Perelman masuk melalui sekolah selektif ini. Ketika berusia 16 dan memenangkan medali emas, dan dia tidak menolaknya.

Konon, di komunitas matematika, anggota-anggotanya saling berkompetisi dengan sengit. Ketika Perelman menerbitkan artikel pertama pada konjektur Poincare pada tahun 2002, ia bahkan meragukan pembuktiannya sendiri. Agaknya jenius selalu dalam keraguan. Selama empat tahun yg menyakitkan ia menunggu untuk pengakuan usahanya. Akhirnya tiga matematikawan terkemuka menulis bahwa meskipun terdapat beberapa ketidakakuratan yg tidak signifikan, dan kesalahan kecil, pembuktian Perelman yang otentik dan orisinil.

Perelman menerbitkan tulisannya bukan di jurnal ilmiah bergengsi untuk direview sesama kolega, tetapi di sebarkan di internet. “Jika ada orang yang tertarik pada cara saya menyelesaikan masalah, semuanya ada disana - biarkan mereka semua membaca tentang itu,” kata Dr Perelman. “Saya telah menerbitkan semua perhitungan saya. Ini adalah apa yang dapat berikan pada masyarakat.”

Kini, Perelman tinggaldi apartemen kecil bersama ibunya dg uang pensiun lima puluh dollar sebulan karena Perelman tidak bekerja lagi sejak 2006. Menurut tetangganya perabotannya hanya terdiri dari sebuah tempat tidur, meja, dan almari, dan banyak kecoa bersarang di apartemen tersebut.

“Aku tidak butuh uang dan ketenaran,” kata Perelman. “Aku sudah punya semuanya..” Matematika mungkin maksudnya semuanya itu…

dikutip dari : www.edukasi.kompasiana.com

Bilangan Prima yang Mengagumkan

Bilangan prima adalah dasar dari matematika, termasuk salah satu misteri alam semesta. Tidak pernah terbayangkan oleh manusia sebelumnya, sampai ditemukan bahwa bilangan prima juga merupakan dasar dari kehidupan alam, yang dengan usaha keras ingin dijelaskan dalam sains. Pandangan orang umumnya mengatakan bahwa matematika hanyalah penemuan manusia biasa. Sebaliknya, beberapa pemikir masa lalu Pythagoras, Plato, Cusanus, Kepler, Leibnitz, Newton, Euler, Gauss, termasuk para revolusioner abad ke-20, Planck, Einstein dan Sommerffeld yakin bahwa keberadaan angka dan bentuk geometris merupakan konsep alam semesta dan konsep yang bebas (independent). Galileo sendiri beranggapan bahwa matematika adalah bahasa Tuhan ketika menulis alam semesta.

Salah satu teka-teki lama yang belum sepenuhnya terpecahkan adalah bilangan prima. Bilangan prima adalah bilangan yang hanya dapat habis dibagi oleh bilangan itu sendiri dan angka 1. Angka 12 bukan merupakan bilangan prima, karena dapat habis dibagi oleh angka lainnya 2, 3, dan 4. Bilangan prima adalah 2, 3, 5, 7, 11, 13, …. dan seterusnya. Banyak bilangan prima tidak terhingga. Tidak peduli berapa banyak kita menghitung, pasti kita akan menemukan bilangan prima, walaupun mungkin makin jarang. Hal ini menjadi teka-teki kita, jika kita ingat bilangan ini tidak dapat dibagi oleh angka lainnya. Salah satu hal yang menakjubkan, dalam era komputer kita memberikan kodetifikasi semua hal yang penting dan rahasia, di bank, asuransi, dan perhitungan perhitungan
peluru kendali, security system dengan enkripsi, dalam angka jutaan bilangan-bilangan yang tidak habis dibagi oleh angka lainnya. Ini diperlukan karena dengan penggunaan angka lain, kodetifikasi tadi dapat dengan mudah ditembus. Fenomena inilah yang ditemukan ilmuwan dari Duesseldorf (Dr. Plichta), sehubungan dengan penciptaan alam, yaitu distribusi misterius bilangan prima.

Para ilmuwan sudah lama percaya bahwa bilangan prima adalah bahasa universal yang dapat dimengerti oleh semua makhluk (spesies) berintelegensia tinggi, sebagai komunikasi dasar antarmereka. Bahasa ini penuh misteri karena berhubungan dengan perencanaan universal kosmos.

Bilangan lain yang perlu diketahui adalah sisa dari bilangan prima, yakni bilangan komposit, kecuali angka 1, yaitu 4, 6, 8, 9,10,12,14,15, …. dan seterusnya. Dengan kata lain, bilangan komposit adalah bilangan yang terdiri dari minimal dua faktor prima.

Mayoritas ahli astrofisika juga percaya bahwa di alam semesta terdapat “kode kosmos” atau yang disebut cosmic code based on this order, yang dikenal juga sebagai Theory of Everything (TOE), yang artinya terdapat konstanta-konstanta alam semesta yang saling berhubungan berdasarkan perintah pendesain. Sekali perintah tersebut dapat dipecahkan, maka hal ini akan membuka pandangan sains lainnya yang berhubungan.

Baik penulis fiksi ilmiah, misalnya Dr. Carl Sagan dalam bukunya Contact, maupun para pemikir sains, seperti Galileo, Euclid, telah lama berpendapat bahwa bilangan prima adalah bilangan universal yang diyakini merupakan bahasa alam semesta, bilangan yang ada hubungannya dengan desain kosmos, dan dalam operasionalnya banyak dipakai manusia untuk security system – kodetifikasi – enkripsi. Termasuk kemungkinan untuk komunikasi interstellar, antargalaksi, dan komunikasi dengan ETI, Extra-Terrestrial Intelligent.

Pesan berkode dari Frank Drake, penemu kriptogram, dikirimkan kepada para ilmuwan dalam upaya mengatasi kesulitan menemukan arti sinyal artificial extraterrestrial (datang dari luar angkasa, tidak dikenal). Pesan tersebut terdiri dari 1271 garis (1271 adalah bilangan prima) angka 1 dan nol (atau bit). Kunci kode dikenali karena 1271 adalah hasil kali dua bilangan prima 31 dan 41, sehingga informasi dapat diperlihatkan dengan 41 garis dengan 31 bit tiap garis atau 31 garis dengan 41 bit tiap garis. Kemungkinan pertama tidak berarti, tetapi kemungkinan kedua mempunyai gambaran yang lebih berarti. Bernard Oliver salah satu penerima sinyal dari Frank Drake, sesama
ilmuwan, dapat memecahkan kode tersebut. Di mana kemungkinan ini memberikan prospek komunikasi antara makhluk-makhluk di alam semesta dengan spesies yang sama, bahasa yang sama. Kriptogram Frank Drake dapat memecahkan kesulitan komunikasi antargalaksi dengan makhluk berinteligensia tinggi lainnya atau ETI, Extra-Terrestrial Intelligent.

Faktanya, para astronom dan ilmuwan matematika memang percaya bahwa bilangan biner dan bilangan prima adalah dasar dari komunikasi di alam semesta.
Bilangan prima dalam matematika diyakini merupakan salah satu misteri alam semesta, karena hingga era komputer sekarang ini pun, ia banyak dimanfaatkan sebagai sistem kodetifikasi (pengkodean, penyandian) berbagai hal yang penting dan rahasia. Di alam semesta, ia “diduga” menjadi bahasa universal yang dapat dipahami oleh semua makhluk berkecerdasan tinggi dan dipakai sebagai komunikasi dasar antar mereka. Bahkan sejak dahulu, sebagian ilmuwan meyakini adanya hubungan erat bilangan prima dengan desain kosmos.

message from : Harry Syafutera (Forum Matematika_Facebook)